Home / Berita Jabar / Abah Anton Sang Pengagas Gong Perdamaian Dunia

Abah Anton Sang Pengagas Gong Perdamaian Dunia

Faktualjabar.com – DR. H. Anton Charliyan Dalam lawatannya ke Kabupaten Ciamis, menyempatkan diri mengunjungi Obyek Wisata Budaya Ciung Wanara, Karangkamulyan, Rabu (20/12/2017). Sejarah dan budaya sangat melekat di sosok Mantan Kapolda Jabar ini

Komplek bangunan Gong Perdamaina Dunia (Gong World Peace) dan Pangcalikan Singgasan Raja menjadi yang dituju Abah Anton. Menurut Abah Anton kepada wartawan di ciung wanara ini merupakan situs sejarah Kerajaan Galuh pada Tahun 579, menurutnya Kerajaan Galuh salah satu kerajaan yang Cinta Damai, oleh sebab itu dibuatlah Bangunan Gong Perdamaian di Tempat Wisata Ciung wanara ini

“kita pun juga harus mencintai sejarah-sejarah dan budaya. Dan kebetulan Galuh ini salah satu kerajaan yang cinta damai makanya dibuat Gong Perdamaian Dunia,” ungkap Anton yang merupakan pengagas Gong Perdamaian Dunia.

Salah satu bukti Kerajaan Galuh itu cinta damai, Lanjut Anton, Kerajaan Galuh mempunyai motto/filosopi ‘pakem heubeuk jaya di buana, pake gawe kerta bener, pake gawe kerta rahayu, ulah botoh bisi kokoro, ulah patengah bisi katoker.’

“Artinya secara garis besar, membangun kekuatan dengan kedamaian, membangun kedamaian dengan kerendahan hati. Jadi kita bisa kuat kalau kita damai. Kita bisa kuat bukan dengan memukul tapi dengan merangkul. Dengan kerendahan hati kalau dalam Islam tawadlu kalau dalam kesundaan adalah ilmu padi, semakin berisi semakin nerunduk,” terangnya.

Selain itu, Kerajaan Galuh mempunyai ajaran ‘Galih na ti leuwing ati, galuh na diunggal leuweung, galuh na cahyaning ratu. Dimana, semua kegiatan tergantung daripada nawaitunya.’

“Kalau nawaitunya ingin berserakah berkuasa tidak akan berhasil. Jadi nawaitunya ingin ibadah, makanya pemimpin itu harus amanah,”terangnya

Pada kesempatan itu Anton berpesan, setiap bangsa harus menghargai sejarah, jangan melupakan sejarah dan budaya. Karena untuk menghancurkan bangsa itu mudah, yakni dengan menghancurkan budayanya. Dan jika kita mengetahui sejarah maka akan mengetahui jati diri.

“Makanya mohon maaf, Al Quran itu 75% adalah sejarah. Karena kenapa? agar kejadian-kejadian dimasa lalu tidak terulang kembali, experience the teacher. Makanya kita datang ke tempat sejarah itu jangan hanya untuk menghafal nama dan tanggal, tapi apa yang dikandung hikmah sejarah tersebut. Di sejarah Galuh itu banyak hikmah-hikmah kalau kita mau resapi dan belajar,” bebernya. (dian)

About admin

Check Also

Di Masa Pandemi Covid-19, Warga Terbantu Adanya Bantuan Sosial

Kabupaten Tasikmalaya, faktualjabar.com – Dimasa pandemi covid-19 pemerintah melalui kementerian sosial sendiri telah mengeluarkan kebijakan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *